• TPPAS Sarimukti dirancang dengan kapasitas 2 juta ton sampah, tapi saat ini volume sampah mencapai 16 juta ton.
• Perluasan area pembuangan sampah telah mengakibatkan pembelokan sungai (river diversion).
• Material lempung yang mendominasi wilayah TPPAS Sarimukti memiliki sifat yang kurang stabil, terutama ketika terpapar air.
Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti awalnya dibangun sebagai solusi darurat pascalongsor besar di TPPAS Leuwigajah pada 2005. Kapasitas awalnya dirancang untuk menampung 2 juta ton sampah, tapi seiring dengan berjalannya waktu, volume sampah yang masuk ke TPPAS Sarimukti terus meningkat hingga mencapai 16 juta ton.
TPPAS Sarimukti menerima sampah dari empat kota besar, yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Kini, TPPAS tersebut telah mengalami kelebihan kapasitas (over capacity).
TPPAS Sarimukti dirancang untuk menampung sampah sebesar 1.200 ton per hari, Namun, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan peningkatan volume sampah, sekarang tempat ini harus menampung hingga 2.000 ton sampah per hari, atau over capacity 800 ton per hari.
Tim peneliti Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai oleh Asep Saepuloh (penulis) dengan anggota Astyka Pamumpuni, Muhammad Rais Abdillah, dan Sella Lestari Nurmaulia melakukan penghitungan volumetrik topografi menggunakan pengukuran berbasis fotogrametrik dan pemindai laser terrestrial.
Hasilnya, TPPAS Sarimukti sebenarnya sudah mencapai batas kapasitas volume alamiah sejak 2010. Itu terlihat dari volume sampah yang memenuhi kapasitas ruangan alamiah sebesar 3 juta m3.
Pada periode 2010-2023, rata-rata laju kenaikan volume timbunan sampah adalah 14,706 m3 per tahun, sedangkan untuk periode 2023-2024 menunjukkan lonjakan signifikan dalam laju kenaikan volume sampah dengan rata-rata 52,070 m3 per tahun. Itu menandakan adanya percepatan dalam penumpukan sampah dalam waktu singkat yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sebelumnya (2010-2023). Dengan Kondisi itu, pemerintah harus mencari solusi jangka panjang.
DAMPAK LINGKUNGAN DAN SOSIAL
Over capacity di TPPAS Sarimukti tidak hanya menimbulkan masalah operasional, tetapi juga pada lingkungan dan masyarakat sekitar. Bukan hanya bau tak sedap, melainkan juga dapat terjadi pencemaran air dan tanah. Pencemaran itu terjadi akibat masuknya cairan lindi (limbah cair yang berasal dari timbunan sampah) ke dalam tanah.
Air yang tercermar dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit kulit dan gangguan pencernaan. Selain itu, pencemaran air tanah dapat berdampak pada pertanian lokal, mengurangi kualitas hasil panen, dan mengancam mata pencaharian petani.
Kemudian, perluasan area pembuangan sampah telah mengakibatkan pembelokan sungai (river diversion). Perubahan itu dapat mengganggu ekosistem sungai dan mengurangi kualitas air yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Lebih jauh lagi, kondisi lingkungan yang buruk juga dapat menurunkan nilai properti di sekitar TPPAS Sarimukti, mengurangi daya Tarik kawasan tersebut sebagai tempat tinggal.
Tumpukan sampah di TPPAS Sarimulkti yang sudah melebihi batas penimbunan tanah yang ada di bawahnya.
HIDROMETEOROLOGI DAN GEOLOGI
Selain masaiah kapasitas, TPPAS Sarimukti juga menghadapi tantangan hidrometeorologi dan geologi yang sangat berat. Volume air hujan yang masuk ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Sarimukti mencapai sekitar 5 juta liter per hari.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. volume air yang masuk area pembuangan sampah meningkat secara signifikan, Air hujan itu dapat menyebabkan sampah menjadi lebih berat dan sulit untuk dikelola, serta mempercepat proses pembusukan yang menghasilkan cairan lindi dalam jumlah besar. Selain itu, air hujan yang berlebihan dapat menyebabkan erosi dan longsor di area pembuangan sampah.
Ketika air hujan bercampur dengan sampah yang membusuk, proses dekomposisi anaerobik dapat menghasilkan gas metana dan gas-gas lain yang berbau tidak sedap. Untuk mengatasi masalah itu, diperlukan sistem pengelolaan air limpasan hujan yang efektif seperti pembuatan saluran drainase yang baik dan penutup area pembuangan sampah untuk mengurangi kontak langsung antara sampah dan air hujan.
Penampang geologi dari utara ke selatan menunjukan batuan dasar dari timbunan sarnpah berupa batu lempung dengan kemiringan lapisan ke arah selatan yang mudah mengembang dan berpotensi bergeser (longsor) pada saat terkena air.
Pengukuran kapasitas ruang alamiah tempat penimbunan sampah dengan pemindai laser terestrial (Terrestrial Laser Scanning) dengan teknologi GNSS (Global Navigation Satellite System).
Selain itu, kawasan TPPAS Sarimukti yang terdiri atas perbukitan dan lembah mengalami perubahan morfologi akibat adanya tumpukan material sampah. Perubahan tersebut disebabkan adanya timbunan sampah yang semakin menumpuk dari 2006 hingga sekarang.
Perluasan area TPPAS yang menggunakan berbagai metode seperti ekskavasi dan urugan juga menjadi faktor pemicu perubahan morfologi di daerah tersebut, Perubahan morfologi dapat mengakibatkan terjadinya perubahan aliran air permukaan sehingga memerlukan rekayasa pola aliran sungai.
WILAYAH YANG KURANG STABIL
Hasil survet lapangan tim FITB TTB mengungkapkan adanya 87 titik singkapan batuan yang tersebar di wilayah TPPAS Sarimukti dan sekitarnya, Berdasarkan temuan itu, tim dari FITB ITB berhasil membuat peta geologi baru berskala 1:20.000 yang mengidentifikasi adanya empat jenis batuan penyusun di area tersebut, yaitu batupasir, batulempung, breksi, dan endapan laharik.
Batuan dasar dari timbunan sampah berupa batu lempung dengan kemiringan lapisan ke arah selatan serta keberadaan sesar normal di sisi barat menyebabkan daya dukung geologi menjadi sangat rendah.
Material lempung yang mendominasi wilayah TPPAS Sarimukti memiliki sifat yang kurang stabil terutama ketika terpapar air. Ketika material lempung itu jenuh air, kekuatannya akan berkurang secara signifikan sehingga meningkatkan risiko longsor.
Selain itu, kemiringan lapisan batuan lempung ke arah selatan yang searah dengan kemiringan lereng topografi juga menambah risiko pergerakan tanah, terutama saat terjadi hujan deras, Keberadaan sesar normal di sisi barat semakin memperburuk kondisi geologi, karena sesar ini dapat menjadi jalur bagi cairan lindi untuk meresap ke tanah dan mencemari air tanah.
LANGKAH PENANGGULANGAN
Untuk mengatasi penetrasi cairan indi dan mengurangi air limpasan, berikut beberapa hal yang dapat dibuat:
1. Pembangunan Pembatas Kedap Air
Keberadaan sesar normal di sisi barat perlu dihindari untuk mengantisipasi penetrasi cairan lindi ke air tanah. Maka itu, perlu dibangun pembatas seperti tembok yang kedap untuk sisi barat. Tembok kedap air itu harus dibangun dengan material yang tahan terhadap korosi dan memiliki umur pakai yang panjang. Selain itu, perlu dilakukan pemantauan rutin untuk memastikan bahwa tembok kedap air itu berfungsi dengan baik dan tidak mengalami kerusakan.
2. Rekayasa Sistem Drainase
Rekayasa sistem drainase ke arah selatan yang tahan terhadap tekanan sampah perlu dibuat agar beban tumpukan sampah oleh air limpasan berkurang. Sistem drainase itu harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mengalirkan air hujan dengan cepat dan efisien tanpa menyebabkan genangan air di area TPPAS Sarimukti. Penggunaan material drainase yang tahan terhadap tekanan dan korosi sangat penting untuk memastikan sistem tersebut dapat berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.
3. Penahan Gelincir Material Sampah
Rekayasa penahan gelincir material sampah yang kuat, tetapi mampu meloloskan air, di sisi selatan perlu dibuat untuk mengantisipasi terjadinya longsor sampah. Penahan berupa bronjong atau sabo dam disarankan untuk digunakan.
Bronjong ialah struktur penahan yang terbuat dari anyaman kawat baja yang diisi dengan batu-batu besar. Struktur itu memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas dan kemampuan untuk menahan tekanan sampah sambil tetap memungkinkan air untuk mengalir melalui celah-celah batu. Sabo dam, di sisi lain, ialah struktur penahan yang dirancang khusus untuk mengendalikan aliran material longsor dan air sehingga dapat mencegah terjadinya longsor yang lebih besar.
Mengurangi dari Sumbernya
Berkaca dari negara-negara maju, pengelolaan sampah yang efektif memang tidak lepas dari peran teknologi dan edukasi. Teknologi tidak dapat berdiri sendiri karena biaya yang tidak seidkit. Sebab itu, cara yang lebih jitu untuk mengurangi timbunan sampah di TPA ialah mengurangi dari sumbernya, baik dari rumah, pasar, kantor, restoran, maupun lainnya.
Beberapa waktu lalu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan wakilnya, Erwin, telah menyampaikan beberapa program prioritas terkait penanganan sampah di Kota Bandung. Salah satu fokus utamanya ialah menangani masalah sampah dari hulu dengan pemilahan sampah di sumbernya.
Mereka berencana untuk melanjutkan program ‘kang pisman’ (kurangi, pisahkan, dan manfaatkan sampah) yang sudah berjalan sejak 2018 serta mengedukasi masyarakat untuk memilah sampah dari rumah dan tempat kerja. Selain itu, mereka berencana untuk menggunakan teknologi termal dalam pengelolaan sampah. Teknologi itu memungkinkan pemusnahan sampah secara lebih cepat dan efisien. Residunya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku batako.
Pemahaman bahwa setiap barang yang dibuang memerlukan biaya untuk pengolahan sangat penting untuk ditanamkan di tengah masyarakat. Banyak orang belum menyadari bahwa setiap kali mereka membuang sampah, ada biaya yang harus dikeluarkan untuk mengolah sampah tersebut.
Jika masyarakat memahami hal itu, mereka akan lebih bijak dalam mengelola barang sisa dan lebih selektif dalam membeli barang. Edukasi mengenai dampak finansial dari sampah dapat mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola barang-barang yang mereka miliki.
Selain itu, penting untuk menyadari bahwa semua barang yang dibeli pada akhirnya akan dibuang. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat akan lebih selektif dalam membeli barang, hanya membeli yang benar-benar diperlukan dan menghindari pembelian barang- barang yang tidak penting.
Proses pengurangan sampah dari hulu juga melibatkan pemanfaatan barang sisa. Misalnya, barang-barang yang masih layak pakai dapat didaur ulang atau digunakan Kembali. Di rumah, masyarakat dapat memisahkan sampah organik dan anorganik untuk memudahkan proses daur ulang. Hal yang sama berlaku di perkantoran dan pusat perbelanjaan.
Beberapa contoh kebijakan pemerintah luar negeri untuk mendorong masyarakat mengurangi sampah ada di Jerman dan Jepang. Pemerintah Jerman menerapkan Undang-Undang Manajemen Siklus Tertutup yang memberikan tanggung jawab pengolahan sampah kepada produsen dan distributor produk. Kebijakan itu mendorong produsen untuk merancangproduk yang lebih mudah didaur ulang dan mengurangi penggunaan bahan berbahaya. Di Jepang, masyarakat diwajibkan untuk memisahkan sampah mereka ke berbagai kategori, seperti sampah organik, plastik, kertas, dan logam.
Dengan edukasi yang tepat, masyarakat akan lebih sadar akan dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan serta lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam program pengelolaan sampah. Dengan komnbinasi teknologi dan edukasi yang difasilitasi oleh kebijakan pemerintah, kita dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.